SUBANG – Center of Excellence (CoE) Management Accounting: Training, Research, Internship, and Community Service (Matrics) STIE Sutaatmadja kembali merealisasikan dedikasinya dalam menyajikan kurikulum pendidikan yang adaptif terhadap dinamika global. Melalui program bertajuk Inspirational Business Sharing Session yang digelar pada Senin (13/7), civitas akademika mendapatkan kesempatan emas untuk menggali ilmu secara langsung dari pemilik Athamara Group sekaligus penggagas Desa Wisata Lembur Cigarukgak, H. Urip Soeprianto, SE. Pertemuan edukatif tersebut dilangsungkan secara interaktif di Kantor PT. Athamara.

Agenda yang dipimpin oleh Asep Kurniawan, SE., MM., M.Sc. selaku Pembina CoE Matrics ini menjadi perwujudan konkret dari pilar Tri Dharma perguruan tinggi dengan mengusung tema besar “Unraveling ESG”. Fokus utama dari gerakan ini adalah membedah, mendalami, sekaligus mengaktualisasikan konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) lewat jalur edukasi, riset ilmiah, dedikasi sosial, serta kemitraan taktis bersama sektor industri dan komunitas lokal.

Dalam pemaparannya, figur pengusaha yang akrab disapa Boss Urip tersebut membagikan kisah perjuangannya merintis usaha dari nol di tanah kelahirannya, Subang, hingga sukses memayungi jaringan bisnis Athamara Group. Ia menegaskan bahwa pencapaiannya saat ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari keteguhan kerja, kejujuran, stabilitas performa, ketajaman melihat peluang, serta kerelaan untuk terus meng-upgrade diri di tengah terpaan dinamika pasar.

Kisah pasang surut yang dilewatinya menjadi pemantik motivasi bagi para mahasiswa, sekaligus pembuktian bahwa integritas moral merupakan tiang utama dalam merancang ekosistem bisnis yang bertahan lama. Pria peraih gelar Sarjana Ekonomi ini berpandangan bahwa korporasi yang tangguh bukan sekadar entitas yang mampu mengejar margin keuntungan, melainkan yang sanggup merawat reputasi, memegang teguh komitmen, serta menghadirkan kontribusi riil bagi hajat hidup orang banyak

Orientasi nilai tersebut diimplementasikan secara nyata oleh Boss Urip lewat aksi filantropi berbasis pemberdayaan di Desa Wisata Lembur Cigarukgak. Menurutnya, kesuksesan finansial perusahaan wajib memberikan dampak ikutan yang lebih masif daripada sekadar angka pertumbuhan ekonomi semata. Dunia usaha memikul tanggung jawab moral untuk memacu kesejahteraan sosial, melestarikan ekosistem alam, memperkokoh tata kelola kelembagaan, serta membuka ruang kolaborasi agar semua elemen masyarakat dapat berkembang bersama.

Langkah strategis ini menjadi representasi ideal dari adopsi instrumen ESG di lapangan. Pada elemen lingkungan (Environmental), tata kelola desa wisata dirancang agar tetap selaras dengan pelestarian alam serta pemanfaatan potensi daerah secara bijak. Sementara pada aspek sosial (Social), kepedulian terhadap masyarakat diakomodasi melalui program stimulasi ekonomi lokal, penguatan sektor UMKM, dan peningkatan kapasitas SDM. Di sisi tata kelola (Governance), tata kepemimpinan yang transparan, visioner, serta sinergi multi-pihak antara pemangku kebijakan, warga, korporasi, dan akademisi menjadi kunci utama kelancaran program.

Bagi manajemen CoE Matrics, rekam jejak Boss Urip mengonfirmasi bahwa nilai-nilai ESG bukan sekadar teori tekstual di dunia korporasi besar, melainkan instrumen yang sangat mungkin diimplementasikan secara riil demi kemaslahatan masyarakat luas. Kerangka berpikir inilah yang melandasi pergerakan tema “Unraveling ESG”, yakni menjembatani dogma akademis dengan realitas empiris di lapangan untuk memformulasikan solusi yang kontekstual dan berdampak positif.

Sesi diskusi mengalir secara dinamis dan memicu antusiasme tinggi dari para mahasiswa. Berbagai topik krusial dikupas tuntas, mulai dari taktik membangun usaha yang resilien, urgensi kepemimpinan yang bersih, hingga formulasi dalam menyelaraskan profitabilitas bisnis dengan tanggung jawab sosial. Pertukaran ide ini sukses membuka cakrawala baru bagi mahasiswa bahwa tolok ukur kesuksesan wirausahawan sejati tidak hanya bertumpu pada materi, tetapi juga pada seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi bumi dan kemanusiaan.

Pembina CoE Matrics, Asep Kurniawan, SE., MM., M.Sc., memaparkan bahwa forum ini merupakan bagian terintegrasi dari pola pengajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang tengah gencar diterapkan oleh lembaga. Ia menilai, mahasiswa dituntut untuk bertatap muka dan menyerap nilai secara langsung dari pelaku industri yang tidak hanya mencetak sukses komersial, namun juga mengadopsi manajerial yang bertanggung jawab atas keberlanjutan alam, sosial, dan birokrasi internal.

“Melalui tema besar Unraveling ESG, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang melampaui teori di ruang kelas. Mahasiswa diajak melihat secara langsung bagaimana prinsip-prinsip ESG diterapkan dalam praktik bisnis dan pengabdian kepada masyarakat. Pengalaman Boss Urip menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, dan tata kelola yang baik,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan Inspirational Business Sharing Session ini, CoE Matrics STIE Sutaatmadja menargetkan lahirnya generasi akademisi yang tidak sekadar andal dalam keilmuan manajemen serta akuntansi murni, melainkan juga memiliki kepekaan terhadap isu keberlanjutan, berkarakter pemimpin, dan visioner dalam memecahkan problematika sosial. Spirit “Unraveling ESG” diharapkan terus menjiwai jalannya pendidikan, riset, pengabdian masyarakat, serta kemitraan strategis ke depan, agar institusi tinggi mampu memberikan sumbangsih konkret demi terciptanya pembangunan nasional yang inklusif serta berkelanjutan.