SUBANG — Kolaborasi akademik lintas negara antara mahasiswa University Islam Selangor (UIS), Malaysia, dan mahasiswa STIE Sutaatmadja (STIESA), Indonesia, digelar di Kampus STIE Sutaatmadja Subang, Jumat (12/12/2025). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pertukaran keilmuan sekaligus memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap praktik akuntansi dan tata kelola perusahaan berbasis nilai etika dan syariah.

Dalam kegiatan tersebut, dua materi utama dipaparkan, yakni perspektif akuntansi dalam Islam serta tinjauan Good Corporate Governance (GCG). Kedua topik dipilih untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dalam menghadapi tantangan bisnis modern yang menuntut profesionalisme, transparansi, dan tanggung jawab moral.

Materi pertama disampaikan oleh dosen University Islam Selangor (UIS), Nur Suriana binti Awaludin. Dalam paparannya, ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 282 yang dikenal sebagai ayat terpanjang dalam Al-Qur’an dan secara tegas menekankan pentingnya pencatatan transaksi sebagai bagian dari amanah dan keadilan. Menurutnya, akuntansi dalam Islam tidak sekadar prosedur teknis, melainkan kewajiban moral dan religius.

Ia menegaskan beberapa prinsip utama, antara lain kewajiban mencatat transaksi utang secara lengkap dan jelas, termasuk waktu jatuh tempo, pentingnya peran saksi sebagai penjamin transparansi, serta tanggung jawab pihak yang mampu menulis untuk mencatat secara benar tanpa mengurangi hak pihak lain. Prinsip akuntabilitas tersebut menjadi fondasi utama dalam praktik akuntansi syariah modern.

Melalui materi ini, mahasiswa UIS dan STIESA memperoleh pemahaman bahwa nilai-nilai akuntansi syariah memiliki dasar yang kuat dalam nash Al-Qur’an, bukan sekadar adaptasi dari standar akuntansi konvensional. Ayat tersebut menjadi rujukan etis dalam penyusunan dan pelaporan keuangan dalam sistem ekonomi Islam.

Sementara itu, materi kedua mengenai Good Corporate Governance disampaikan oleh Sri Mulyati, SE., M.Si. Ia menekankan bahwa tata kelola perusahaan tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi merupakan sistem menyeluruh untuk memastikan perusahaan dikelola secara transparan, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang.

Dalam pemaparannya, Sri Mulyati menjelaskan lima prinsip utama GCG, yakni transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran. Ia juga mengulas berbagai tantangan tata kelola perusahaan di kawasan Asia Tenggara, seperti potensi konflik kepentingan, lemahnya pengawasan internal, serta budaya organisasi yang belum sepenuhnya mendukung keterbukaan.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya integrasi nilai etika dan syariah dalam tata kelola perusahaan, khususnya di sektor keuangan dan bisnis berbasis nilai Islam. Menurutnya, akuntansi, manajemen risiko, dan tata kelola perusahaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena kualitas tata kelola yang buruk pada akhirnya akan menghasilkan laporan keuangan yang tidak dapat dipercaya.

Kolaborasi akademik antara mahasiswa UIS Malaysia dan STIESA Indonesia ini menjadi wadah pembelajaran yang kaya melalui pertukaran perspektif lintas negara. Dengan fokus pada akuntansi Islam dan tata kelola perusahaan, kegiatan ini diharapkan mampu memperluas wawasan mahasiswa sekaligus mempererat kerja sama pendidikan antara kedua institusi dalam membentuk calon profesional yang berintegritas dan berlandaskan nilai etika serta syariah.