SUBANG – Enam mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja (Stiesa) Subang berhasil menjadi finalis dalam kompetisi bergengsi International Business Plan Competition. Babak final akan diadakan pada 24-28 Juli di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).
Kompetisi ini diprakarsai oleh ADAI-Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dan Association Asia Pacific Academician (AAPA). Tigin Lugiani, Kepala Bidang Kemahasiswaan Stiesa, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah bukti bahwa kampus mendukung segala bentuk kegiatan yang dapat mengasah kemampuan soft skill dan hard skill mahasiswa.
“Kita punya mata kuliah bisnis plan tersendiri, UMKM, kewirausahaan, karena di bisnis itu ada manajemen juga, keuangan juga, pokoknya semua kompleks,” katanya.
Estu Widarwati, dosen pembimbing lomba, mengungkapkan bahwa dia hanya perlu memoles ide bisnis yang sudah dimiliki oleh para mahasiswa. Dari lima tim yang diikutsertakan, dua di antaranya berhasil lolos ke babak final dengan proyek bisnis “SeratQ” dan “Bibit Taryana”.
SeratQ: Ide Fashion Unik yang Ramah Lingkungan
Tim SeratQ memanfaatkan serat kulit nanas untuk membuat produk fashion seperti tas dan jam tangan. Erika, Nisa, dan Rafi, mahasiswa semester 6 yang tergabung dalam tim ini, berharap rancangan bisnis mereka dilirik oleh industri fashion.
“Ada sih harapan kaya dilirik sama perusahaan fashion,” kata Erika, pemilik ide bisnis SeratQ.
Bisnis ini ramah lingkungan dan memanfaatkan limbah untuk didaur ulang, sehingga produk yang dihasilkan dapat terurai oleh alam. Nisa menyatakan bahwa mereka sering melihat daun nanas dibuang begitu saja oleh penjual nanas di jalanan.
Taryana Bibit: Mengajarkan Berkebun Hingga Tuntas
Yayan bersama timnya, Kharisma dan Novi, mengembangkan bisnis penjualan bibit tanaman dengan nama “Taryana Bibit”. Yang membedakan bisnis ini dari yang lain adalah layanan Jasa Bimbingan Cara Berkebun (JBCB), yang memberikan pengetahuan kepada konsumen tentang cara berkebun.
“Awalnya kita gak terlalu berekspektasi apapun, bibit apa sih yang bisa ditonjolkan, tapi ternyata banyak hal yg bisa kita ulik, karena dimbimbing juga kita jadi, oh iya bibit itu tidak bisa dipandang sebelah mata,” kata Kharisma.
Meskipun telah dipasarkan ke seluruh Indonesia, Yayan tidak berharap banyak bisa melangkah sejauh ini. Hingga dinyatakan lolos final, mereka masih merasa tidak percaya. Salah satu tantangan yang dihadapi Yayan adalah ketidakpercayaan konsumen terhadap usianya yang masih muda.
Perjuangan dan Harapan di Kancah Internasional
Estu mengungkapkan bahwa persiapan mengikuti ajang ini hanya memakan waktu sekitar satu bulan. Babak tersulit adalah dari semi final menuju final, dengan waktu persiapan hanya dua minggu. Namun, tantangan tersebut berhasil dilalui berkat fokus dan ketekunan para mahasiswa.
Estu juga menekankan pentingnya memperkenalkan Subang melalui video yang mereka buat. “Mengenalkan, eksplore Kota Subang, karena produk mereka itu sudah eco-industry, masuk juga ke green industry,” tandasnya.
Dengan bersaing melawan 14 kampus lainnya, enam mahasiswa tersebut akan dinilai oleh delapan juri dari lima negara, yaitu Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Mereka berharap mendapatkan dukungan dan doa dari masyarakat Subang, serta dukungan dengan menonton video karya mereka di kanal YouTube untuk menambah penilaian juri.
Pencapaian ini dijadikan momentum bagi Stiesa untuk menunjukkan kemampuan mereka di kancah internasional. “Anak-anak ini sudah ada bisnisnya, bukan hanya rencana tetapi sudah dijalankan. Kita ikut perlombaan internasional baru sekarang, alhamdulillah langsung lolos,” papar Estu.
Dengan semangat dan dukungan yang ada, mereka berharap dapat membawa nama baik Subang dan Stiesa di kompetisi internasional ini.
Sumber: ClueToday