SUBANG – Kampus STIE Sutaatmadja Subang (STIESA) bekerja sama dengan Universiti Islam Selangor (UIS) Malaysia menggelar webinar internasional pada Sabtu, 6 November 2025, yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Manajemen dan Akuntansi dari kedua kampus. Kegiatan akademik lintas negara ini menghadirkan sejumlah narasumber dari Indonesia dan Malaysia untuk membahas tema besar mengenai peran generasi muda dalam ekonomi pertahanan di era digital, serta tantangan dan peluang yang menyertainya.
Webinar tersebut menghadirkan Dr. Aza Shahnaz Bt Azman (Lecturer UIS Malaysia) sebagai keynote speaker, dengan pemateri lainnya yakni Puan Fadilah Bt Mat Nor (Lecturer UIS Malaysia), Indah Umiyati, S.E., M.S., Ak. (Dosen Akuntansi STIESA), dan Mutqi Sopiawadi, S.E., M.M. (Dosen Manajemen STIESA). Acara dipandu oleh Kuncorosidi, S.E., M.Sc., dosen Manajemen STIESA selaku moderator.
Generasi Z: Aset Strategis dalam Ekonomi Pertahanan Digital
Dalam sesi keynote, Dr. Aza Shahnaz menegaskan bahwa ekonomi pertahanan modern tidak lagi terbatas pada sektor militer semata, tetapi berkaitan erat dengan pengelolaan pengetahuan, pemahaman ekosistem digital, serta membaca dinamika geopolitik global. Ia menilai Gen Z sebagai strategic asset karena memiliki literasi teknologi tinggi, kemampuan adaptasi cepat, dan kecakapan dalam memahami sistem digital yang semakin kompleks.
Lebih jauh, Dr. Aza menekankan pentingnya memperkuat digital defense melalui generasi muda, tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai penggerak inovasi, kewirausahaan digital, dan aktor dalam keterlibatan strategis global. Meski demikian, ia mengingatkan adanya dilema etika seperti penyalahgunaan data dan manipulasi informasi. Karena itu, Gen Z dituntut mengembangkan critical thinking agar pemanfaatan AI dan teknologi digital tetap menjaga etika, keamanan, serta tanggung jawab profesional.
GIG Economy dan Ekonomi Pertahanan: Peluang Besar, Risiko Tak Terelakkan
Puan Fadilah Bt Mat Nor memaparkan bahwa ruang lingkup ekonomi pertahanan perlu dipahami secara luas, meliputi stabilitas ekonomi nasional, ketahanan digital, keamanan tenaga kerja, hingga akses masyarakat terhadap layanan esensial. Menurutnya, berkembangnya GIG economy kini menjadi bagian penting dari fungsi pertahanan nasional modern.
Ia menjelaskan bahwa Gen Z memasuki GIG economy karena fleksibilitas kerja, peluang pendapatan, kesempatan meningkatkan keterampilan, serta mobilitas karier. Bahkan, fenomena ini mendorong lahirnya gelombang baru wirausaha digital. Namun, risiko seperti ketidakpastian penghasilan dan kerentanan pekerjaan tetap mengancam para pelakunya.
Mengusung perspektif maqasid syariah, Puan Fadilah menekankan pentingnya perlindungan terhadap akal, spiritualitas, keseimbangan hidup, dan kualitas keluarga. Oleh sebab itu, generasi muda memerlukan bimbingan agar tetap selaras dengan etika dan kesejahteraan jangka panjang saat beraktivitas dalam GIG economy.
Akuntansi sebagai Pilar Strategis dalam Pertahanan Negara
Dari perspektif akuntansi, Indah Umiyati, S.E., M.S., Ak. menyoroti lima poin utama mengenai peran profesi akuntansi dalam ekonomi pertahanan. Ia menjelaskan bahwa:
- Defense economics menuntut pengelolaan sumber daya pertahanan secara efisien dan akuntabel.
- Perkembangan era digital memperluas kompleksitas ekonomi pertahanan.
- Profesi akuntansi kini memiliki posisi strategis karena berperan dalam transparansi, pengawasan, dan tata kelola keuangan pertahanan.
- Gen Z merupakan talenta masa depan yang akan mengisi sektor pertahanan digital dengan kompetensi teknologi yang mereka miliki.
- Meski peluang besar menanti, tantangan yang muncul juga signifikan dan menuntut kesiapan kompetensi generasi muda.
Ekonomi Pertahanan dan Tantangan Era VUCA–BANI
Pemateri ketiga, Mutqi Sopiawadi, S.E., M.M., memaparkan perspektif mendalam mengenai ekonomi pertahanan di tengah dinamika global yang bergerak cepat. Ia menjelaskan bahwa dunia saat ini berada dalam kondisi VUCA—volatile, uncertain, complex, ambiguous—yang kemudian berkembang menjadi BANI: fragile, anxious, non-linear, dan incomprehensible. Menurutnya, situasi ini berdampak langsung pada keamanan nasional dan stabilitas ekonomi.
Mutqi menegaskan bahwa perang modern telah memasuki fase hybrid & unrestricted warfare, di mana konflik tidak lagi terbatas pada aspek militer, tetapi juga mencakup disinformasi, serangan siber, dan tekanan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa economic warfare, seperti sanksi dan manipulasi mata uang, kini menjadi instrumen penting dalam sengketa geopolitik.
Dalam konteks economic defense, ia menyoroti pentingnya ketahanan nasional di bidang energi, pangan, air, identitas, dan lingkungan. Transformasi pertahanan menuntut efisiensi alokasi sumber daya, baik militer maupun sipil, serta penguatan industri pertahanan nasional.
Mutqi juga menekankan peran krusial economic intelligence dan cyber intelligence, yang memanfaatkan data real-time untuk memprediksi peluang dan ancaman, mendukung perencanaan sanksi, hingga menjaga keamanan rantai pasokan. Ia menyebut hadirnya aktor baru yang disebut Economic Warrior, yaitu profesional yang menguasai ekonomi, teknologi siber, dan geopolitik sekaligus.
Lebih lanjut, ia memaparkan tantangan industri pertahanan global, seperti menurunnya kapasitas produksi amunisi sejak 1990-an, gangguan rantai pasokan, kekurangan tenaga ahli, hingga kebutuhan investasi jangka panjang. Di sisi lain, era digital juga menghadirkan peluang melalui pemanfaatan AI, big data, dan blockchain dalam sistem pertahanan.
Ia turut menyoroti isu global yang relevan pada 2025, termasuk peningkatan serangan siber, ketegangan AS–Tiongkok terkait perang chip, kebutuhan NATO terhadap amunisi, hingga perkembangan perang elektronik dan teknologi satelit sebagai domain baru.
Kolaborasi Akademik untuk Mempersiapkan Talenta Pertahanan Masa Depan
Paparan para narasumber menunjukkan bahwa ekonomi pertahanan modern membutuhkan pendekatan lintas disiplin—menggabungkan teknologi, ekonomi, akuntansi, manajemen, dan etika. Webinar STIESA–UIS ini menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa Indonesia dan Malaysia dalam memahami isu strategis global sekaligus mempersiapkan diri menghadapi lanskap pertahanan digital yang terus berkembang.
Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan mahasiswa, mendorong inovasi, serta memperkuat kerja sama akademik antarnegara dalam menghadapi tantangan ekonomi pertahanan di era teknologi cerdas.