Mengintip “Budaya Harbolnas” dan Peluang Bisnis nya

Category: Opini Published: Wednesday, 21 November 2018 Written by Administrator

Menjamur nya merchant dan market place membuat bisnis online semakin berkembang. Dari yang awalnya bisnis online hanya menggunakan aplikasi sosial media dan messenger, sekarang sudah banyak dibuka toko-toko online baik yang sifatnya market place ataupun merchant. Tentunya semua perkembangan itu ditopang oleh kemajuan teknologi informasi.

 

Menurut Gugyh Susandi, SE, M.Si fenomena ekonomi ini merupakan fenomena ekonomi yang sering disebut sebagai Revolusi Industri, 4.0, dimana ekonomi dan aktivitas bisnis yang dijalankan ditopang oleh plarform digital teknologi.

“Jadi inilah yang disebut sebagai Revolusi Industri 4.0 itu, di era ini konektivitas antar entitas bisnis terkoneksi tanpa halangan, dan bahkan model bisnis menjadi sharing economy.” ujar Gugyh kepada KabarSubang, Senin (12/11/2018).

Bahkan untuk menarik minat para konsumen, muncul istilah baru dengan yang disebut sebagai Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) dengan fasilitas potongan harga yang sangat besar (diskon). Di tahun 2018 ini pertumbuhan sektor online baru mampu mempenetrasi 9% populasi, maka wajar harbolnas dilakukan untuk mempenetrasi populasi yang lebih besar lagi.

“Diskon adalah sebagian bentuk dari promosi penjualan. Sektor online yang sedang tumbuh di Tahun 2018 baru mampu melakukan penetrasi sebanyak 9% dari populasi atau sebanyak 24,74 juta orang dengan nilai transaksi 5,6 Milyar US Dollar. (Sumber: IdEA). Maka wajar jika untuk mendorong penetrasi yang lebih besar lagi dicanangkan harbolnas.” lanjut Gugyh yang juga merupakan seorang Dosen dan Peneliti dari STIE Sutaatmadja

Lebih lanjut ketika ditanya mengenai peluang bisnis dan wirausaha untuk masyarakat subang khususnya untuk para anak muda di subang Gugyh menjelaskan bahwa sebagai sebuah peluang sangat besar kesempatanya untuk memulai start-up bisnis.

“Peluang yang cukup besar bagi generasi muda untuk memulai start up Business, dengan catatan diperlukan ide dan model bisnis yang bersifat sharing (berbagi) agar dapat menemukan titik efektivitas menghasilkan pendapatan dan titik efisiensi menekan biaya.” terang Gugyh

Selain itu untuk dapat menjalankan bisnis online berupa market place atau merchant ada hal-hal yang harus dikerjasamakan dengan pelibatan beberapa lembaga yang berfungsi sebagai inkubator.

“Disamping itu perlu wadah komunitas yang menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi/lembaga riset untuk dapat berfungsi sebagai inkubator selama 5 tahun pertama bisnis dijalankan, untuk kemudian mandiri berkembang dan berkelanjutan.” pungkasnya (ram/red)

Artikel ini pernah dimuat di situs KabarSubang.com

Hits: 497