• Download materi Kuliah Perdana, Pelantikan Mahasiswa Baru TA 2017/2018

Budaya Mesjid VS Budaya Pasar

Biasanya pagi ini, ia akan ditemani secangkir teh hangat dan berita dari tv yang menyala. Tapi pagi ini, ia ditemani oleh cahaya matahari yang menerobos langit-langit kaca. Di luar sana, burung-burung besi mendarat dan mengudara membawa puluhan orang menuju tujuannya masing-masing.

Ia menghela nafas. Sebentar lagi, sebuah burung besi berkapasitas 200 orang akan membawanya pulang dari negeri jiran: Malaysia. Karena ia baru selesai menghadiri sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan oleh negara-negara Islam. Sebuah laku yang dinisbatkan kepadanya oleh institusi di mana ia bekerja. Sebuah kehormatan yang membuatnya bangga tapi sekaligus juga mengantarkannya pada sebuah kegelisahan.

Laki-laki itu mendesah. Ia membawa sebentuk kegelisahan di kepalanya:

Budaya, berasal dari bahasa Sanksekerta yaitu buddhayah (bentuk jamak dari buddhi, akal)[1]. Pengertian sempit budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi manusia. Dalam pengertian luas, budaya merupakan sebuah kompleksitas menyeluruh yang memasukkan pengetahuan, kepercayaan, seni, moralitas, hukum, adat dan kapablitas serta kebiasaan lain yang diperlukan oleh seseorang sebagai bagian dari masyarakat[2].  Dari sini, kita bisa melihat bahwa budaya memasukkan sistem kode yang unik di dalam rasa, logika, nilai serta cara berperilaku dari seseorang agar ia menjadi bagian dari kesatuan yang lebih besar : masyarakat.

Budaya memiliki banyak corak dan warna yang berbeda di dunia. Tapi di tulisan ini, penulis ingin membuat penyederhanaan terhadap 2 budaya saja: budaya pasar dan masjid. Ini tentu saja, over-simplifikasi dan merupakan kategori/konstrak mental yang dibuat oleh penulis. Pengkategorian ini sengaja dibuat untuk mendukung argumentasi penulis dalam artikelnya.

Budaya mesjid menempatkan mesjid dalam centrum nilai dan pemaknaannya. Sebagai sebuah centrum, ia menempatkan dirinya sebagai poros pertemuan  antara hubungan vertikal dengan Alloh (hablul minalloh) dan horisontal (hablul minannas). Ia menarik seluruh aktivitas masyarakat di dalam bagian dirinya. Di dalam mesjid terjadi bermacam aktivitas ibadah dan sosial: pendidikan bahkan perniagaan. Tetapi karena ia terletak di mesjid, maka warna mesjid menjadi warna yang dominan.

Di sisi lain, pasar merupakan centrum yang memposisikan diri sebagai titik temu antara penjual dan pembeli. Ini membentuk keseluruhan nilai, makna, rasa dan logika dari masyarakat yang menjadi sub-kategori di bawahnya. Maka keseluruhan aktivitas yang ada di dalamnya diwarnai oleh seberapa besar nilai tukar dan nilai jual dari aktivitas tersebut. Semakin tinggi nilai jual/tukar-nya semakin bermakna aktivitas tersebut.

Dua budaya ini saling mempengaruhi diantara keduanya. Di dalam budaya pasar, nilai pemaknaan, hiburan hingga religi juga mempunyai tempat. Edukasi menempa individu untuk menjadi entitas yang mempunyai kontribusi positif terhadap transaksi pasar. Sistem nilai dibangun agar  transaksi di masyarakat tidak hanya berbentuk transaksi uang, tetapi juga politik hingga sosial. Hiburan pun menjadi sesuatu yang banal karena audiens memerlukan pemaknaan yang bersifat instan dan tidak rumit. Kerumitan, proses yang lama merupakan sesuatu yang dihindari karena akan menghambat kecepatan proses transaksi di pasar. Religi dan da’wah pun akhirnya menjadi sesuatu yang instan dan hiburan karena publik mempunyai waktu fokus yang sangat sedikit di dalam beribadah di sela kepadatan aktivitas bekerja sehari-hari.

Hal ini tercermin dalam peristiwa keseharian kita: pada saat panggilan shalat terjadi, aktivitas pasar tidak terhenti. Tanggungjawab untuk beribadah beralih dan dibebaskan kepada individu masing-masing. Ini disebabkan budaya pasar membentuk nilai tukar yang bersifat pragmatis di antara pembeli dan penjual. Pragmatisme ini menempatkan dimensi nilai ilahiah (verikal) di luar dirinya.

Sebaliknya, jika pasar terjadi di dalam lingkungan mesjid, maka hal lain terjadi. Di dalam mesjid, maka produk yang dijual adalah produk yang  terseleksi. Sebelum ia dijual maka ada semacam filterisasi nilai sehingga produk merupakan sesuatu yang cocok untuk lingkungan tersebut. Filternya hanya satu: kompatibilitas dengan shari’ah.  Akitvitas transaksi pun tidak setiap saat karena ada saat-saat dimana aktivitas ini berhenti karena adanya aktivitas ibadah. Hal ini menyebabkan aktivitas ekonomi tidak mengalami proses over-heated karena roda ekonomi yang berputar terus menerus.

Menghindari simplifikasi, baik budaya masjid maupun pasar akan mengalami rivalitas yang muncul untuk memperebutkan hegemoni budaya di masyarakat. Situasi konfiktual ini akan mempertanyakan apakah budaya mesjid ataupun pasar akan dapat membawa pengaruh yang lebih positif bagi masyarakat yang akan memilihnya.

Ada suatu pernyataan yang coba dibuat oleh konferensi ini: kemajuan adalah dengan kembali ke akar. Laki-laki itu tersentak oleh hal itu. Di dalam konferensi ini ia melihat bahwa budaya mesjid juga harus belajar dari budaya pasardan membuat modifikasi yang berbasis shari’ahatasnya. Tanpa keberanian dan keinginan untuk berinovasi maka budaya mesjid akan semakin kalah populer dengan budaya pasar. Padahal, masyarakat juga menanti-nanti perubahan yang dapat membuatnya lebih tentram (sisi spiritual) dan tidak memberatkan dirinya (sisi ekonomi).

Laki-laki itu perlahan beringsut ke gerbang penerbangan. Panggilan di dalam bandara itu menyuruhnya untuk segera bergegas menuju pesawatnya. Di dalam kepalanya ia teringat akan sebuah ayat dalam kitab sucinya :

 “Dan Alloh tidak merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah diri mereka sendiri” (Qur’an) 


[1] www. Wikipedia.org 

[2] E.B Taylor dalam www.wikipedia.org