• Download materi Kuliah Perdana, Pelantikan Mahasiswa Baru TA 2017/2018

Maka Menelitilah....

Sudah sifat alamiah manusia untuk selalu bertanya tentang sekitarnya. Keingintahuan sekaligus kegelisahan akan lingkungannya, menuntutnya untuk selalu mengobervasi, meneliti dan menyimpulkan. Cerita sosok-sosok besar dalam sejarah merupakan contoh nyata dari pernyataan tersebut. Newton, Galileo dan Einstein adalah beberapa figur yang dipertemukan dengan realitas lingkungan yang membuat mereka bertanya, berefleksi danmenemukan sebuah jawaban yang dibagikan kepada dunia.

Dalam pemikiran modern, observasi dan penelitian demi sebuah solusi merupakan tulang punggung rasionalitas. Melalui metode sederhana hingga terumit, rasionalitas modern menggunakan analisa thesis – antitesis – synthesis untuk  “membedah” obyek di hadapannya. Fenomena – yang berasal dari bahasa Yunani phainomenon, "apa yang terlihat" – merupakan sesuatu yang harus dapat ‘dibedah’, diurai dan diterangkan sehingga ia akhirnya tunduk dan terkuasai oleh rasio.

Sewajarnya, dalam lingkungan akademisi, minat dan hasrat untuk meneliti merupakan sesuatu yang bersifat alamiah. Berbeda dengan dunia kerja (walau sekarang dunia kerja juga mengadopsi ide ini) , lingkungan akademik mengijinkan adanya eksperimentasi, diskusi berkepanjangan dan yang terutama – hasrat untuk bermain-main. Konsep bermain-main ini memunculkan kata kreativitas dalam kamusnya. Sebagai sebuah cara berpikir,  kreatifitas, dalam hemat penulis berada di tengah-tengah antara pikiran logis nan serius di otak kiri dan imajinasi yang ‘liar’ dari otak kanan kita. Perpaduan keduanya menghasilkan sebuah ide, metode ataupun produk yang bersifat baru sekaligus berguna.

Sayangnya, jumlah penelitian dan hasil paten yang dihasilkan di Indonesia jauh lebih sedikit dari para negara tetangganya. Jangankan dibandingkan dengan AS dan Jepang yang juara, dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura saja kita jauh tertinggal. Berdasarkan laporan World Economic Forum dalam Global Competitiveness Index tahun 2014, Indonesia berada pada posisi 106 dari 144 negara dalam jumlah paten dibandingkan populasinya. Peringkat ini jauh berbeda dengan negara ASEAN lainnya seperti Singapura (peringkat 13), Malaysia (peringkat 32) dan Thailand (peringkat 67)[1].

Berdasarkan pemaparan Agus Candra Suratmadja, jumlah paten yang sedikit ini juga antara lain disebabkan oleh minimnya anggaran riset di Indonesia yang hanya sebesar 0,08% dari produk domestik bruto-nya (PDB). Hal ini berbeda dengan anggaran riset di negara Singapura yang mencapai 2,36% dari PDB nya, Malaysia sebesar 0,63% dan Thailand 0,25%[2].

Kurangnya support dari pemerintah dan kampus, serta minimnya anggaran yang dialokasikan tentunya tidak serta merta membuat penelitian berhenti. Beberapa bahkan berhasil membawa nama harum negeri ini ke ajang internasional. Siswa Sekolah Dasar Pelita Pasar Minggu bernama Muhammad Rangga Atmaja, membawa inovasi berjudul berjudul“Hand Replacement for People with Special Needs” memperoleh Honor of Invention WIIPA, Bronze Medal, Special Award dari Hongkong Invention Association dan Special Award dari Korea University Invention Association (KUIA)[3].

Jauh dari sorotan media dan publik, banyak di sekitar para peneliti dan penemu yang tetap bertanya, tetap resah dan berjuang demi sebuah jawaban. Mereka menyingkirkan pandangan bahwa penelitian harus didukung oleh dana besar dan penghargaan yang tinggi oleh sekitarnya. Mereka seakan bergerak dalam gelap demi setitik terang bagi kita semua. Maukah Anda menjadi bagian dari mereka?...

 



[1] World Economic Forum, The Global Competitiveness Index 2014-2015, hlm. 536. 

[2]Agus Candra Suratmaja , Korelasi Peningkatan Anggaran Riset dengan Jumlah Penelitian dan Paten Internasionalyang Dihasilkan diantara Negara Indonesia, Malaysia dan Thailand, 2013, hlm. 1. 

[3]http://www.ayisi.or.id/news-update/inovator-muda-indonesia-raih-gold-honor-of-invention-special-award-di-international-young-innovator-exhibition-iyie-2014taiwan